🌴 Ibadah adalah Tauqifiyah 🌴
✍ Admin Mari Belajar Islam
Maknanya, ibadah tidak dilakukan kecuali dengan apa yang diperintahkan atau dituntunkan wahyu Alloh ﷻ. Karena sesungguhnya akal semata-mata tidak dapat menjangkau perincian masalah ibadah, masalah halal-haram, dan masalah-masalah yang dibenci atau dicintai oleh Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud/11:112).
Ayat ini dengan tegas menyatakan, beribadah harus mengikuti perintah Alloh عزّوجلّ dan tidak boleh melewati batas. Tatkala orang-orang musyrik mengharamkan sebagian binatang ternak dan menghalalkan sebagian lainnya, maka Alloh سبحانه و تعالى membantah mereka dengan firmanNya:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَذَا فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Apakah kamu menyaksikan di waktu Alloh menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Alloh untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (QS. al An’am/6:144)
Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata di dalam tafsir beliau: “(Firman Alloh: Apakah kamu menyaksikan di waktu Alloh menetapkan ini bagimu?") Alloh mengejek orang-orang musyrik tentang perkara yang mereka buat-buat dan mereka adakan secara dusta atas (nama) Alloh عزّوجلّ, yaitu pengharaman yang mereka lakukan. (Firman Alloh: Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Alloh untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?), yaitu tidak ada seorangpun yang lebih zhalim daripada mereka.”1
Setelah menjelaskan ayat-ayat tentang batilnya anggapan orang-orang musyrik yang mengharamkan sebagian binatang ternak dan menghalalkan sebagian lainnya dengan tanpa hujjah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di رحمه الله berkata:
"Tidak tersisa bagi kamu kecuali dakwaan semata, tidak ada jalan bagi kamu untuk menetapkan kebenarannya dan keabsahannya. Dakwaan itu adalah bahwa kamu mengatakan: 'Sesungguhnya Alloh telah mewasiatkan kami tentang ini, dan Alloh telah memberikan wahyu kepada kami sebagaimana Dia telah memberikan wahyu kepada para rasulNya. Bahkan telah diwahyukan kepada kami sebuah wahyu yang berbeda dengan apa yang diserukan oleh para rasul dan apa yang diturunkan kitab-kitab'. Tetapi kedustaan tersebut pastilah diketahui oleh setiap orang. Oleh karena itulah Alloh عزّوجلّ berfirman: 'Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Alloh untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?' Yaitu, bersamaan kedustaannya dan berdusta (atas nama Alloh), dia berniat menyesatkan hamba-hamba Alloh dari jalan Alloh, dengan tanpa bukti dari Alloh سبحانه و تعالى, tanpa penjelasan, tanpa akal, dan tanpa riwayat (dari Rosul)”.2
Setelah menyebutkan ayat 59 dan 60 surat Yunus, juga ayat 116 dan 117 surat an Nahl, Syaikh Muhamad bin Shalih al ‘Utsaimin رحمه الله berkata: Sesungguhnya termasuk kejahatan yang besar, yaitu :
1) Seseorang mengatakan tentang sesuatu itu halal, padahal dia tidak mengetahui hukum Alloh tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
2) Atau seseorang mengatakan tentang sesuatu itu haram, padahal dia tidak mengetahui hukum Alloh tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
3) Atau seseorang mengatakan tentang sesuatu itu wajib, padahal dia tidak mengetahui hukum Alloh tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
4) Atau seseorang mengatakan tentang sesuatu itu tidak wajib, padahal dia tidak mengetahui hukum Alloh tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
Demikian ini merupakan kejahatan dan adab yang buruk terhadap Alloh عزّوجلّ. Wahai hamba Alloh, engkau mengetahui bahwa hukum adalah milik Alloh, tetapi bagaimana kemudian engkau mendahuluiNya? Engkau berkata tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui tentang agama dan syari’atNya? Sesungguhnya Alloh telah merangkaikan (larangan) berbicara tentang Alloh tanpa ilmu dengan syirik (surat al A’raf/7 ayat 33).3
______________________
1. Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim, surat al An’am/6 ayat 144.
2. Tafsir Taisir Karimir-Rahman, surat al An’am/6 ayat 144.
3. Kitabul ‘Ilmi, halaman 75-76.
📚 Referensi: Kaidah-Kaidah Ibadah yang Benar, Ust. Abu Ismail Muslim al-Atsari حفظه الله, Sumber: AlManhaj.or.id dari Majalah as-Sunnah Ed.10 Thn.X_1427H/2006M.
0 komentar :
Posting Komentar