MENJAGA ALLOH ﷻ
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
Marilah kita simak langsung dari penuturan Abdullah ibn ‘Abbas رضي الله عنه, beliau berkata:
كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ،
“Pada suatu hari, aku berada di belakang Rosulillah صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , kemudian beliau bersabda kepadaku; ‘wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarimu (aku berpesan kepadamu) beberapa kalimat, jagalah Alloh niscaya Alloh menjagamu, …(HR. at Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh al Albani)/Sunan Tirmidzi, 2440, Kitab: Sifat Qiamat, penggugah hati dan wara’, Bab: lain-lain.
Lalu apakah yang dimaksud dengan menjaga Alloh سبحانه وتعالى?.
Imam Abdurrahman ibn Abi Bakr Jalaludin as Suyuthi رحمه الله dalam kitabnya Qutul Mughtadzi berkata, Imam al Kahfani رحمه الله berkata:
“Menjaga Alloh, maksudnya adalah kamu menjaga perintah Alloh سبحانه وتعالى dan kamu bertakwa kepadaNya. Maka jangan sampai Alloh melihatmu berbuat kemaksiatan atau berbuat pelanggaran terhadap perintahNya.”
Dan merupakan perbuatan seorang hamba yang menjaga Alloh سبحانه وتعالى adalah dengan menjaga anggota badannya agar tidak digunakan untuk hal kemaksiatan atau perbuatan dosa.
Ada 5 anggota badan dari diri kita ini yang perlu direnungkan bersama oleh kita. Sudahkah kita menjaga ke 5 anggota badan ini untuk tidak bermaksiat kepada Alloh سبحانه وتعالى?
Pertama: Menjaga Hati
Menjaga hatinya dari perkara-perkara syubhat yang dapat mengkeruhkan keyakinannya, dan menjaga hatinya dari perkara-perkara syahwat yang dapat menyesatkan dan menyengsarakannya.
Hati memiliki kedudukan yang penting bagi hidup setiap manusia. Apabila hati telah hilang, maka hilanglah segala hidupnya. Apabila hati telah rusak, maka rusaklah segala perilaku hidupnya.
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam badan/tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh badan. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh badan. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhori-Muslim)
Kedua: Menjaga Lisan
Lisan memiliki perkara yang sangat mengagumkan. Berapa banyak kehormatan orang yang hancur disebabkan oleh lisan? Berapa banyak harga diri yang menjadi rendah disebabkan oleh lisan? Berapa banyak rumah tangga yang runtuh disebabkan oleh lisan? Dan berapa banyak kemaksiatan yang keluar dari lisan, namun kita tidak pernah menyadarinya? Ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), mengejek, menghina, berdusta, menipu, atau saling berdebat untuk sesuatu yang tidak berguna, tidak ada manfaatnya sama sekali.
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يُرِيدُ بِهَا بَأْسًا، يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ
“Sesungguhnya seseorang berkata dengan satu
kalimat, ia menganggapnya biasa. Tapi ternyata kalimat tersebut menjadikannya
terlempar ke dalam api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Ahmad,
dishohihkan oleh Syaikh al Albani)
Maka hendaknya setiap kita menjaga lisan ini,
agar tidak keluar darinya kecuali sesuatu yang mendatangkan ridho Alloh سبحانه وتعالى, atau sesuatu yang
menggembirakan hati orang yang mendengarnya.
Abu Bakar ash Shiddiq رضي الله عنه berkata:
ولله ما
شيئ أحق بطول حبس من اللسان
“Demi Alloh, tidak ada sesuatu yang lebih
berhak untuk terus dijaga sepanjang waktu daripada lisan ini.”
مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari
kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik, (kalau tidak bisa) maka lebih
baik ia diam saja.” (HR. Bukhori-Muslim)
Ketiga: Menjaga Pendengaran
Seorang muslim, seorang mu’min tidak pantas
baginya mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh سبحانه وتعالى. Tidak mendengarkan
perkataan kotor. Tidak mendengarkan musik-musik. Tidak mendengarkan
siulan-siulan. Dan tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia.
Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
وَالَّذِينَ
لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِراماً
"(Dan termasuk hamba Alloh Yang Maha
Penyayang adalah), orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan
apabila mereka bertemu dengan orang yang melakukan perbuatan/perkataan yang
sia-sia, maka dia berlalu dengan tetap menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al
Furqon : 72)
Maka jagalah telinga kita, jagalah pendengaran
kita. Sungguh ayat-ayat Al Qur’an adalah lebih berhak untuk kita dengarkan, nasihat-nasihat
atau ceramah yang baik adalah lebih layak untuk kita dengarkan.
Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤادَ كُلُّ أُولئِكَ كانَ
عَنْهُ مَسْؤُلاً
“Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati. Semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al
Isra’ : 36)
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
الحمد لله على فضله وإحسانه وأشكره على توفيقه وامتنانه
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله
عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليمًا كثيراً أما بعد :
Keempat: Menjaga Penglihatan
Sesungguhnya mata, apabila ia digunakan untuk
melihat atau memandang sesuatu yang haram, maka sesungguhnya dia adalah panah
beracun iblis yang dapat merusak hati dan mengoyak keimanan yang ada di
dalamnya. Namun apabila ia dijaga untuk tidak melihat atau memandang hal-hal
yang diharamkan, maka Alloh akan memberi ganti keimanan untuk kita yang kita
rasakan manisnya di dalam dada.
قُلْ
لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذلِكَ أَزْكى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِما
يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada kaum mu’minin (orang-orang
yang beriman), agar mereka menjaga pandangan mereka,
dan menjaga kemaluan mereka. Karena yang demikian itu lebih baik bagi mereka
(lebih mensucikan jiwa mereka). Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa
yang mereka perbuat.” (QS. An Nur : 30)
Kelima: Menjaga Perut
Seorang muslim menjaga perutnya dari makanan
yang haram. Dia tidak makan kecuali dari apa yang telah dibolehkan, dari apa
yang telah dihalalkan untuknya. Dia menjauhi unsur-unsur penghasilan yang
datang dari riba, penipuan, atau jual beli yang curang, sehingga tidak ada
keberkahannya sama sekali pada harta tersebut. Justru yang ada adalah
kecelakaan dan kesengsaraan. Seorang muslim makanannya adalah makan yang baik
dan bersumber dari penghasilan yang baik. Karena Alloh سبحانه وتعالى tidaklah menerima kecuali
apa-apa yang baik. Dan tidak menerima do’a kecuali dari orang-orang yang baik.
Rosululloh صَلَّى
الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
bersabda:
أَيُّهَا
النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ
أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ،
“Wahai manusia, sesungguhnya Alloh itu Maha
Baik, tidak menerima kecuali apa-apa yang baik. Dan sesungguhnya Alloh
memerintahkan kaum mu’min dengan apa yang telah diperintahkan kepada para rosul.
فَقَالَ:
{يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي
بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ}
[المؤمنون: 51]
Alloh berfirman, ‘wahai para rosul, makanlah
kalian dari apa yang baik-baik, dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang kalian perbuat’.
وَقَالَ:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172]
Dan Alloh berfirman, ‘wahai orang-orang yang
beriman, makanlah dari apa yang baik-baik, yang telah Kami rizkikan kepada
kalian’.
ثُمَّ
ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى
السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ،
Kemudian Rosululloh menggambarkan tentang
seseorang yang melakukan perjalanan jauh, nampak bekas perjalanan tersebut di
sekujur tubuhnya, penuh debu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit
seraya berseru ya robb ya robb,
وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ،
فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
sedangkan makanannya adalah haram, minumannya adalah
haram, dan pakaiannya adalah haram, dia tumbuh dari sesuatu yang haram, maka
bagaimana mungkin do’anya akan dijawab?.” (HR. Muslim)
Maka kaum muslimin yang dirahmati Alloh سبحانه وتعالى, jagalah Alloh dengan
menjaga anggota tubuh kita agar tetap dan terus dalam keta’atan dan ketakwaan
kepadaNya, serta jauh dari segala kemaksiatan dan perbuatan dosa. Sehingga
dengan begitu, Alloh akan menjaga kita.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
“Ya Alloh, ampunilah kaum mukminin laki-laki dan
wanita, kaum muslimin laki-laki dan wanita, baik yang masih hidup maupun yang
sudah meninggal. Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Maha dekat,
Dzat yang mengabulkan doa.”
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ
قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Ya Robb kami, berilah ampunan kepada kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu sebelum kami, dan
janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman. Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.”
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
“Ya Alloh, berilah kami keamanan di negeri kami,
jadikanlah pemimpin kami dan penguasa kami orang yang baik. Jadikanlah
loyalitas kami untuk orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti
ridho-Mu, yaa Robbal ‘alamin.
اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Ya Alloh, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk menempuh
jalan petunjuk-Mu, jadikanlah sikap dan perbuatan mereka sesuai ridho-Mu, dan
berikanlah teman dekat yang baik untuk mereka, yaa Robbal ‘alamin.”
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami
dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertakwa.”
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
“Wahai Robb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan segala
tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian
kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.”
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
“Ya Alloh, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, serta
berilah rahmat kepada keduanya, sebagaimana mereka mendidik kami di waktu kecil.”
0 komentar :
Posting Komentar